13 Apr

Workshop “Harga Rokok Murah, Memiskinkan Rakyat”

Center for Health Economics and Policy Studies (CHEPS) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menyelengarakan kegiatan workshop dengan tema “Harga Rokok Murah, Memiskinkan Rakyat” yang dilaksanakan sebagai salah satu kesempatan untuk mendiseminasikan informasi terkini terkait dengan reformasi cukai dan harga rokok yang ideal agar dapat memberikan efek “Win-Win Solution” bagi rakyat, pemerintah, dan industri rokok sebab harga rokok yang terlalu murahpun, menjadi beban, tidak hanya bagi ekonomi rakyat Indonesia, namun juga pemerintah. Acara yang diadakan pada hari Kamis, 13 April 2017 di Hotel Aston Rasuna, Jakarta ini dihadiri sekitar 50 orang peserta nasional dan internasional yang terdiri dari para akademisi (pusat kajian, pengajar dan mahasiswa), organisasi pro-pengendalian tembakau, industri rokok dan beberapa media nasional. Kegiatan ini menghadirkan Prof Frank J. Chaloupka, seorang Professor di bidang Ekonomi dan Direktur Badan Penelitian dan Kebijakan Kesehatan, University of Illinois di Chicago (UIC) yang menyampaikan Dampak Tembakau terhadap Ekonomi dan Kemiskinan dalam sudut pandang Global dan Pengalaman Global terkait Implementasi Pajak Rokok dengan Jumlah Konsumsi Rokok. Di samping itu, Prof. Budi Hidayat, SKM, MPPM, PhD sebagai ketua CHEPS juga hadir untuk memaparkan Situasi Terkini Ekonomi Tembakau dan Implikasinya di Indonesia. Beliau juga menyampaikan upaya yang dilakukan untuk memperoleh perhitungan harga rokok yang ideal, yakni harga yang tidak membahayakan bagi kemiskinan, tidak menyebabkan terjadinya inflasi, namun dapat memicu penurunan konsumsi rokok sekaligus meningkatkan pendapatan pemerintah yang nantinya akan dikembalikan untuk pembiayaan jaminan kesehatan.

Hasil dari kajian ini menambah konsideran kepada pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan untuk menentukan harga dan cukai rokok dan dampaknya terhadap kemiskinan.

Beberapa point penting yang dihasilkan dari kegiatan ini adalah sebagai berikut:

  • Konsumsi rokok masih sangat tinggi di negara lower-middle income dibandingkan dengan negara maju. Saat ini Indonesia berada pada posisi ketiga sebagai negara dengan konsumsi rokok tertinggi, setelah China dan India. Hal ini tentu menjadi beban tersendiri bagi ekonomi negara tersebut. Disebutkan pula bahwa 80% perokok berada di negara lower-middle income.
  • Tidak hanya masalah kesehatan yang menyebabkan beban ekonomi dari rokok, namun juga hilangnya produktivitas, menurunkan penghasilan dan biaya layanan kesehatan.
  • Fakta konsumsi rokok dan kemiskinan:
    • Semakin kecil penghasilan penduduk, semakin tinggi jumlah perokok
    • Kematian dini semakin tinggi pada populasi dengan pendapatan rendah dan menengah, hal ini berkaitan dengan health inequity.
    • Pengeluaran untuk rokok setara dengan konsumsi sebesar 1.400 kkal untuk pria.
    • Perokok di negara berkembang lebih mengutamakan konsumsi rokok dibandingkan dengan makanan bergizi dan kebutuhan rumah tangga yang seperti siklus memicu masalah dalam kesehatan dan kemiskinan.
    • Di beberapa negara maju, peningkatan cukai dan harga rokok menyebabkan penurunan konsumsi rokok secara signifikan, salah satunya Meksiko, US, Chili, dan Brazil. 2% peningkatan cukai berpotensi menurunkan hingga 10% jumlah perokok. Di Chili, kebijakan ini sangat sensitif untuk mengurangi jumlah perokok di usia muda.
    • Di Bangladesh, daya jangkau masyarakat terhadap rokok semakin tinggi tiap tahunnya dan menyebabkan peningkatan jumlah perokok tiap tahunnya. Hal ini juga terjadi di Indonesia.
    • Cost-effectiveness dari peningkatan cukai rokok lebih baik dari intervensi lain seperti pelarangan iklan rokok, edukasi, dll
    • Selama ini, regulasi yang mengatur harga rokok di Indonesia menjadi surga bagi produsen dan konsumen (dengan harganya yang murah), namun, neraka menjadi non-perokok, generasi emas penerus bangsa, rumah tangga, dan pemerintah yang menjamin biaya kesehatan untuk menanggung penyakit akibat rokok.
    • Data Susenas 2015, 21.62% penduduk merokok dan mengalahkan kebutuhan rumah tangga, mengingat pengeluaran untuk rokok menduduki peringkat 2 setelah pengeluaran untuk beras.
    • Harga ideal yang dimaksud adalah yang tidak membahayakan bagi kemiskinan dan inflasi. Untuk itu, dibutuhkan parameter kunci:
      • Elastisitas harga rokok terhadap konsumsi terhadap partisipasi merokok dan kuantitas yang dihisap
      • Elastisitas cukai rokok terhadap produksi rokok (idealnya dihitung per layer sesuai dengan 12 layer yang ada di Indonesia)
      • Elastisitas tariff cukai terhada harga di pasaran à Dibutuhkan riset yang panjang untuk memperoleh data ini)
    • Sayangnya, elastisitas harga rokok sangat (tinggi) yang menyebabkan penurunan konsumsi rokok tidak akan sebesar peningkatan harganya.
    • Pencarian harga ideal:
      • Estimasi fungsi permintaan (deman terhadap rokok)
      • Estimasi harga rokok terhadap kemiskinan
      • Simulasi harus dilakukan dengan mempertimbangkan prevalensi, pendapatan dan angka kemiskinan
    • Hasil yang didapat dari analisis sementara berdasarkan Susenas 2015, jika terdapat 10% peningkatan harga rokok, akan ada penurunan permintaan rokok sebesar 5.2%.
    • Pada tahun 2015, sebanyak 11.22% penduduk Indonesia tergolong penduduk miskin. Berdasarkan analisis sementara, peningkatan 25-100% harga rokok justru meningkatkan angka kemiskinan, namun pada level 113%, angka kemiskinan mulai menurun.
    • Kurva Laffer dibutuhkan untuk menghitung efek kenaikan cukai terhadap penerimaan pemerintah dan industri, dengan itu, akan diperoleh nilai ideal harga rokok yang optimal memberikan revenue bagi pemerintah dan menguntungkan industry dengan efek penurunan konsumsi rokok terbesar untuk memperoleh Win-Win Solution.
    • Selama periode 2010-2016, Indonesia hanya mengalami peningkatan cukai sebesar 43% terhadap harga eceran. Dan penerapan cukai ini tidak pernah menembus batas maksimal cukai yang diatur UU, yakni 57%. Mengapa pemerintah tidak mau mengeset harga tinggi? Dikatakan bahwa hal ini dapat menyebabkan kenaikan inflasi, pada kenyataannya, hal ini tidak berhubungan. Tidak ada hubungan antara harga rokok dan inflasi umum.

 

Materi dapat diunduh pada link berikut :

Tobacco & Poverty

Research Brief Harga Rokok

 

Media Coverage :

http://m.metrotvnews.com/ekonomi/mikro/MkMj3PwK-kenaikan-rokok-diusulkan-270

http://www.netralnews.com/news/nasional/read/68775/hasil.penelitian.pkekk.ui..kenaikan.harga.rokok.150.270.persen

http://m.wartaekonomi.co.id/berita137744/wah-kenaikan-harga-rokok-diusulkan-hingga-270-persen.html

http://surabaya.bisnis.com/read/20170413/8/95418/kenaikan-harga-rokok-yang-ideal-berkisar-150-270

http://www.dailymail.co.id/kenaikan-rokok-diusulkan-270

 

Leave a reply