Peningkatan cukai rokok berkontribusi terhadap kenaikan harga rokok. Sementara harga rokok pada besaran tertentu secara optimal dapat mengendalikan konsumsi rokok serta menciptakan tambahan ruang fiskal yang akan bermanfaat dalam pembangunan negara. Hal ini didukung dengan studi terbaru CHEPS UI yang juga menunjukkan bahwa harga rokok ideal mampu memberikan dampak signifikan terhadap pengendalian konsumsi dan pendapatan negara tanpa menimbulkan implikasi negatif terhadap inflasi dan kemiskinan.
Sebagai bentuk kontribusi CHEPS UI dalam mengendalikan konsumsi rokok dan menjaga kualitas generasi masa depan terhadap bahaya rokok, Center for Health Economics and Policy Studies (CHEPS) Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan acara Civil Society Organization Workshop pada hari Selasa, 20 Desember 2016 di Jakarta. Acara ini diselenggarakan dalam bentuk Round Table Discussion antara berbagai lembaga yang fokus pada pengendalian rokok di Indonesia seperti dari kalangan akademisi, pemerintah yang diwakili oleh Kementrian Kesehatan dan Kementrian Keuanga, serta praktisi pengendali rokok, dalam hal ini dari pesantren.
Hadir sebagai narasumber utama Prof dr. Hasbullah Thabrany, MPH., Dr.PH, guru besar bidang ekonomi kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia; Prof. Sauhasil Nazara, SE., M.Sc., PhD., selaku kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementrian Keuangan Republik Indonesia;  Gus Sholah (Dr. (HC) Ir. H. Salahuddin Wahid), Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng; Donald Pardede, MPPM, staf ahli bidan ekonomi kesehatan Kementrian Kesehatan; serta Prof Emil Salim, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
Dalam paparannya, Prof dr. Hasbullah Thabrany, MPH., Dr.PH menjelaskan mengenai dampak rokok terhadap produktifitas manusia dan harga ideal yang dapat mengendalikan konsumsi rokok di Indonesia. Prof dr. Hasbullah Thabrany juga memaparkan hasil studi yang dilakukan oleh CHEPS UI, yang menunjukkan bahwa harga rokok di angka Rp 50,000.- dapat menurunkan prevalensi perokok sebesar 6.73%. Isu lain yang diangkat juga berkaitan dengan beban negara di era JKN dalam membiayai pengobatan penyakit – penyakit akibat rokok, dampak rokok terhadap kualitas hidup masyarakat terutama dalam menghadapi bonus demografi, besar pasar industri rokok dan rencana kenaikan cukai sebagai solusi dalam pencapaian indikator keberhasilan No.21, target 2 dalam Nawacita No.5, serta pengalaman sukses yang dilakukan pesantren dalam menjaga santri-santri dari ancaman bahaya rokok.
Selain narasumber, workshop ini juga dihadiri oleh para pembahas yang berasal dari Yaysan Bina Dharma, Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia, dan Direktorat Promosi Kesehatan Kementrian Kesehatan. Sedangkan peserta aktif dihadiri oleh para pengiat pengendalian rokok yang terdiri dari aktivis kepemudaan, LSM, dan pusat – pusat riset.
Materi:

 
 
Media Coverage:

Categories: Events

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *