Tim Peneliti

Hasbullah Thabrany

Kurnia Sari

Vetty Yulianty

Novita Istanti Dwi

Detail Peneliti

Kategori:

Economics of Prevention

 

Kerjasama:

Johnson & Johnson Indonesia

 

Durasi:

29 November 2013 – 31 Oktober 2016

Ringkasan Penelitian

A Single-Arm, Multicenter, 24-Week Observational Study to Assess the Effectiveness of Implementing Perkeni Self-Monitoring of Blood Glucose (SMBG)-Based Insulin Initiation and Management in Subjects with Type 2 Diabetes Mellitus

 

Hasil Riskesdas meramalkan bahwa jumlah penderita Diabetes di Indonesia akan meningkat dari 6,9 juta pada 2010 menjadi 11,9 pada tahun 2030. Secara ekonomi, Indonesia bisa kehilangan US $ 93 miliar antara 2006-2015 karena diabetes. Data dari skema asuransi kesehatan nasional, yang disebut JKN/Jaminan Kesehatan Nasional, menunjukkan bahwa kasus yang berkaitan dengan komplikasi pasien diabetes mengkonsumsi sekitar 30% dari dana JKN. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas Self Monitoring Blood Glucose (SMBG) sebagai pelengkap terapi insulin pada pasien dengan DM tipe 2. Pengukuran efektivitas diukur dengan hasil intermediate HbA1c. Teori yang mendasari penelitian ini adalah modifikasi perilaku, dengan mengasumsikan bahwa seorang pasien yang mengambil SMBG menyadari sendiri kebutuhannya untuk mengontrol diet dan perawatan.

Pertanyaan penelitian utama dalam penelitian ini adalah seberapa efektif Self Monitoring Glukosa Darah (SMBG)/pengukuran gula darah mandiri bisa menambah terapi insulin antara tipe 2 pasien DM Diabetes Mellitus. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi perubahan kadar HbA1c pada pasien dengan jaminan pasokan insulin, dilengkapi dengan SMBG dalam pengamatan 24 minggu. Secara khusus, studi ini mengevaluasi perubahan kadar HbA1c dari baseline sampai 12 minggu dan 24 minggu setelah terapi insulin awal dan penggunaan SMBG.

Ini adalah studi observatorium prospektif dalam waktu 24 minggu setelah inisiasi terapi insulin dan SMBG untuk pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 (DM2) yang tercakup dalam skema JKN. Kriteria inklusi adalah usia pasien 40-60 tahun, memiliki kadar HbA1c lebih atau sama dengan 9%, komplikasi telah dicatat, belum pernah menggunakan terapi insulin sebelumnya, dan terdaftar di salah satu fasilitas perawatan primer dikontrak oleh BPJS.  Perhitungan sampel menghasilkan angka 100 subyek. Dengan asumsi drop out sebesar 20%, total sampel yang direkrut adalah 120 subjek. Rekrutmen subyek penelitian dilakukan di 8 (delapan) Puskesmas di Jakarta Timur dari bulan Juli 2015 hingga Juli 2016.

Di bawah pengawasan seorang dokter ahli endokrinologi, selama minggu pertama setelah insulin basal, monitoring SMBG dilakukan oleh perawat terlatih. Perawat yang ditugaskan mengunjungi subyek penelitian pada hari ke 3, 7, 10, 13, 16, dan hari ke-19 setelah insulin basal. Kemudian, ditindaklanjuti dengan tes HbA1c dan pencatatan asupan dan kegiatan fisik di 12 dan 24 minggu. Selama kunjungan tindak lanjut, para perawat berkomunikasi secara teratur dengan ahli endokrinologi mengenai kadar gula darah rata-rata, untuk memungkinkan internis untuk meresepkan perubahan dosis (titrasi dosis) kapanpun.

Research Team

Hasbullah Thabrany

Kurnia Sari

Vetty Yulianty

Novita Istanti Dwi

Research Detail

Category: 

Economics of Prevention

 

Support:

Johnson & Johnson Indonesia

 

Duration: 

29 November 2013 – 31 October 2016

Research Summary

A Single-Arm, Multicenter, 24-Week Observational Study to Assess the Effectiveness of Implementing Perkeni Self-Monitoring of Blood Glucose (SMBG)-Based Insulin Initiation and Management in Subjects with Type 2 Diabetes Mellitus

 

In Indonesia, a National Health Survey, predicted that the number of Diabetes patients will increase from 6.9 million in 2010 to 11.9 million in 2030. Economically, Indonesia could lose US$ 93 billions between 2006-2015 due to diabetes. Current data of the National Health Insurance, called JKN, Jaminan Kesehatan Nasional, scheme show that cases related to the complication of diabetes patients consumed about 30% of the JKN fund. This study was to evaluate the effectiveness of complementing insulin therapy with SMBG among patients with Type 2 DM. The measurement of effectiveness is measured by intermediate outcome of HbA1c. The theory behind this study is behavioral modifications. It is assumed that a patient who is taking SMBG will inform him/herself of the needs to control diets and treatments.

The main research question in this study is how effective a Self Monitoring of Blood Glucose (SMBG) could add to an insulin therapy among Type 2 Diabetes Mellitus DM patients. The primary objective of this study is to evaluate changes in HbA1c among patients with guaranteed supply of insulin and equipped with SMBG within 24 weeks observation. Specifically, the study evaluated changes of HbA1c levels from baseline to 12 weeks and 24 weeks after the initial insulin therapy and the use of SMBG.

This is a prospective observatory study within 24-week after initiation of insulin therapy and SMBG to patients with Type 2 diabetes mellitus (DM2) who are covered under the JKN scheme.  The inclusion criteria are patients age 40-60 years of age, had an HbA1c level of more than or equal to 9%, complication have been recorded, have not used insulin therapy before, and enrolled in one primary care facility contracted by the National Health Insurance Corporation (BPJS).  The sample calculation required 100 subjects. Assuming a dropout rate of 20%, the total sample recruited was 120 subjects. Recruitments of subjects were conducted in 8 (eight) Puskesmas in East Jakarta from July 2015 to July 2016.

Under the supervision of an endocrinologist, during the first week after basal insulin, SMBG monitoring was conducted by a trained nurse. The assigned nurses visited the subjects on the 3rd, 7th, 10th, 13th, 16th, 19th day after the basal insulin. Then, follow up tests of HbA1c and collection of historical diets and physical activities at the 12 and 24 weeks. During the follow up visits, the nurses communicate regularly to the endocrinologist on the average blood sugars to allow internist to prescribe changes of doses (dose titration) whenever appropriate.