Tim Peneliti

Septiara Putri

Ary Dwiaji

Novita Dwi Istanti

Gemala Chairunnisa Puteri

Detail Peneliti

Kategori:

Health Insurance

 

Kerjasama:

BPJS Kesehatan

 

Durasi:

20 Oktober – 14 Desember 2015

Ringkasan Penelitian

Program Modelling Home Care Stroke

 

Stroke merupakan penyebab kematian nomor satu di Indonesia disusul dengan penyakit jantung dan diabetes. Sejalan dengan meningkatnya akses peserta JKN, biaya perawatan akut di RS semakin besar. Untuk itu, JKN harus mengantisipasi peningkatan biaya perawatan di RS dengan memindahkan sebagian pasien paska akut atau semi akut ke perawatan yang sifatnya domiciliary (rumah). Tujuan umum dari kajian ini adalah menelusuri dan mengestimasi biaya terkait pemulihan paska stroke di pelayanan rehabilitasi stroke dan memodelkan rehabilitasi paska stroke di rumah (home care) serta memperkirakan efisiensi biaya yang dapat dihasilkan.

Studi ini merupakan studi ekplorasi yang menggunakan pendekatan prospektif dan retrospektif, dengan sample pasien yang terkena stroke selama satu tahun terakhir dengan jumlah 80, diambil dari unit stroke atau instalasi rawat inap rumah sakit dan panti jompo atau rumah perawatan. Pendekatan retrospektif dengan melihat biaya yang dikeluarkan oleh pasien (rekam medis, billing/tagihan) dan yang di bayarkan oleh BPJS (klaim). Sedangkan pendekatan prospektif, mencoba mengkaji biaya medis pada saat pasien terserang stroke dan wawancara pasien untuk biaya diluar biaya medis. Selanjutnya, dilakukan wawancara dari sisi pasien/keluarga pasien, pemberi pelayanan kesehatan, dan manajemen fasilitas kesehatan untuk melihat gambaran yang lebih utuh pelaksanaan rehabilitasi pasien stroke serta kelayakan untuk modeling home care.

Rata-rata lama pasien di rawat sebelum melakukan rawat jalan adalah sekitar 7 hari. Mayoritas pasien memiliki komorbiditas 1 – 5 penyakit.  Empat komorbiditas teratas yang paling sering di derita oleh pasien stroke adalah hipertensi, diabetes melitus, hiperkolestrol, dan dislipidemia. Dengan adanya komorbiditas, maka biaya yang dikeluarkan  pasien akan semakin besar.

Total biaya medis terdiri dari biaya jasa medis, biaya obat, biaya rehabilitasi rawat jalan, biaya laboratorium. Total rata-rata yang diestimasi untuk rehabilitasi rawat jalan pasien adalah Rp. 1.839.817 (jika total rata-rata tiap komponen biaya dikalkulasi semua). Sebagian besar jenis terapi yang dijalankan oleh pasien adalah fisioterapi. Obat yang dipakai oleh pasien bervariasi antara satu dengan yang lainnya dengan rata-rata dari total biaya tiap pasien adalah Rp 869.129 (total biaya medis per pasien, dan di kalkulasi rata-ratanya)

Rata-rata biaya alat bantu adalah sebesar Rp 1.320.909 (n=33) yang tidak dibebankan ke BPJS.  Untuk data klaim, rata-rata biaya yang dilaporkan adalah Rp 161.006 dengan jumlah pasien 3.844 untuk RS PON dan RSUD Pasar Rebo. Biaya langsung non medis yang tertinggi adalah biaya transportasi yang dikeluarkan oleh pasien. Rata-rata biaya transportasi yang dikeluarkan yaitu Rp 2.152.071

Biaya lainnya adalah biaya yang dikeluarkan termasuk biaya komunikasi, caregivers (biaya pengasuh/keluarga), biaya makan atau obat tradisional yang dibeli pada saat rawat jalan. Rata-rata total biaya lain yang dikeluarkan yaitu Rp 2.116.917. Nilai yang sangat ekstrim dikarenakan pasien menggunakan obat-obatan diluar medis atau yang dianjurkan rumah sakit, selain itu juga transportasi yang digunakan seperti menyewa mobil atau menggunakan taksi. Biaya tidak langsung merupakan biaya yang dikeluarkan atau biaya yang hilang pada pasien atau keluarga pasien dikarenakan pasien terserang stroke. Hanya 11 pasien yang terekam masih memiliki pendapatan sejak terserang stroke.Rata-rata pendapatan pasien per bulan adalah Rp 3.106.364.

Skenario rehabilitasi di fasilitas kesehatan tingkat pertama merupakan salah satu model yang diusulkan dalam pelaksanaan rehabilitasi stroke. Secara umum rehabilitasi stroke fase subakut dan kronis dapat ditangani melalui tatalaksana rehabilitasi medis sederhana yang tidak memerlukan peralatan canggih. Selain dari faktor aksesibillitas pasien, dari sisi pemberi jaminan dalam hal ini BPJS  Kesehatan dapat melakukan efisiensi dan kendali biaya. Level  stroke yang diusulkan dalam skenario ini adalah level ringan, namun kedepan diperlukan penelitian yang lebih mendalam agar dapat merekomendasikan kebijakan atas dasar usulan ini.

Research Team

Septiara Putri

Ary Dwiaji

Novita Dwi Istanti

Gemala Chairunnisa Puteri

Research Detail

Category: 

Health Insurance

 

Support:

BPJS Kesehatan

 

Duration: 

20 Oktober – 14 Desember 2015

Research Summary

Program Modelling Home Care Stroke

 

Stroke is the number one cause of death in Indonesia, followed by heart disease and diabetes. In line with the increased access of participants JKN, the cost of acute care in hospitals will be greater. Thus, JKN should anticipate the continuous rising costs of hospital care by shifting some post-acute or semi-acute patients care to the domiciliary (home) care. The objective of this study was to explore and estimate the post-stroke recovery associated costs in stroke rehabilitation services and to model a post-stroke rehabilitation at home (home care) as well as to estimate the cost efficiencies that can be generated.

This was an exploration study using prospective and retrospective approaches, with a sample of past one year stroke patients of 80 patients, taken from the stroke or in-patient units at the hospitals and nursing home or hospice. A retrospective approach was applied by looking at the costs incurred by patients (medical records, billing/invoice) and paid by BPJS (claims). Meanwhile the prospective approach was applied by assessing medical costs when patients have the stroke and interviewing patients for outside medical costs. In addition, interviews of the patient / family, health care providers, and management of health facilities was also conducted to see the big picture of stroke patients rehabilitation as well as feasibility for home care modeling.

The average length of patients in prior outpatient care was about 7 days. Majority of patients had comorbidities of one to five diseases. The four top comorbidities are hypertension, diabetes mellitus, hypercholesterolemi, and dyslipidemia. With the presence of comorbidities, the medical cost incurred will be also increasing. Total medical costs consist of the medical services, drugs, outpatient rehabilitation, and laboratory costs. It was estimated that the average total for outpatient rehabilitation was IDR 1,839,817 (if the average total cost of each component is calculated all). Most frequent therapy type performed was physiotherapy. Medicines was varied from one to another with an average total cost per patients was IDR 869,129. The average cost healthcare devices was IDR 1,320,909 (n = 33), which were not covered by BPJS. Regarding BPJS claim data, the reported average cost is IDR 161,006 with number of patients of 3,844 at two hospitals.

The highest non-medical direct costs was for patient transportation which was IDR 2,152,071. Other incurred costs were costs of communication, caregivers (employed caregiver/family), meal or traditional medicine purchased on an outpatient basis. The average total other expenses was IDR 2,116,917. This big amount related to the habit of buying medicines outside doctor/hospital recommendation as well as using transportation such rental car or taxi. Indirect costs were cost that incurred or lost from patients/relatives related to stroke event happened to patients. Only 11 patients who still had revenues recorded since stroke with average income per month of IDR 3,106,364.

Aside from patient accessibility factor, the payer/insurer factor, which is BPJS, is able to make efficiency and cost control. Level of stroke proposed in this scenario is the mild level, further study is required to have more comprehensive data for policy recommendation.