10 Apr

Diseminasi Hasil Penelitian Efektivitas Biaya Dialisis Di Indonesia: Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) & Hemodialysis (HD) Cost Effectiveness

Center for Health Economics and Policy Studies menyelengarakan kegiatan diseminasi penelitian Hasil Studi Efektivitas Pengobatan Gagal Ginjal Mendukung Pengembangan Terapi Cuci Darah Via Perut (PD) Sebagai Pilihan Pertama Sebelum Hemodialisa (HD). Kegiatan ini dilaksanakan 8 April 2017 di Manhattan Hotel, Jakarta. Dihadiri oleh sekitar 70 peserta dari berbagai pemangku kepentingan baik dari kalangan kementerian kesehatan, Badan  Penyelenggara Jaminan Sosial  (BPJS), Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) berbagai kota, Asosiasi Rumah Sakit, Manajemen Rumah Sakit dan Pasien Gagal Ginjal itu sendiri. Acara ini tidak hanya bertujuan untuk mendiseminasikan studi akademik mengenai efektifits CAPD namun untuk membangun kerjasama dengan stakeholder terkait dan mendukung pemerintah menetapkan kebijakan penanganan gagal ginjal stadium akhir dan beban Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Acara diawali dengan keynote speech dr H zamhir Setiawan M.epid (Kepala Sub-Direktorat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM), Kementerian Kesehatan RI menggantikan Dirjen PTM yang menyampaikan mengenai perlunya pencegahan penyakit ginjal sedari dini melalui gaya hidup sehat yakni dengan makan sehat dan seimbang, kontrol gula dan tekanan darah serta aktivitas fisik secara teratur dan sesuai instruksi presiden yang sejalan dengan jargon CERDIK Kemenkes RI

Sesi panel I diskusi dimoderatori langsung oleh Ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan FKM Universitas Indonesia Prof. Budi Hidayat, SKM ,MPPM, PhD serta narasumber sebagai berikut:

  1. Darmeizar, SpPD-KGH (Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia)
  2. Afiatin, SpPD-KGH (Ketua Indonesia Renal Registry)
  3. Atma SpPO (Instalasi HD-CAPD RSUD Syaiful Anwar Malang)
  4. Sigit Priohutomo, MPH (Ketua Dewan Jaminan Sosial Nasional)
  5. drg Armansyah (Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI)

Sesi panel 2 membahas substansi dari hasil studi yaitu Efektivitas Ekonomi Pengobatan Gagal Ginjal Kronis di Indonesia dan Hasil Anlisis Harga Studi CHEPS UI oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr. PH dan Evaluasi Ekonomi Berbasis Model oleh Septiara Putri, SKM, MPH

Beberapa point penting dari diskusi ini antara lain

  • Epidemiologi penyakit gagal ginjal semakin meningkat di Indonesia dan menjadi masalah tersendiri karena memerlukan biaya yang cukup tinggi.
  • Dari seluruh pasien dialisis, 97% pasien mennjalani HD, hanya 3% yang CAPD di Indonesia, hanya beberapa negara yang menjalani CAPD dalam jumlah besar, seperti Meksiko (60%) dan Hongkong (80%). Namun, di Indonesia, dari Aceh hingga Papua sudah ada yang bisa melaksanakan CAPD.
  • Masalah yang dihadapi antara lain jumlah pasien selalu melonjak tiap tahunnya, pasien PGTA umumnya selalu didampingi dengan komorbiditas, jumlah CAPD masih rendah, dan tenaga kesehatan yang ahli juga masih terbatas.
  • Diperlukan tatalaksana evaluasi PGK yang tepat sehingga waktu penentuan rujukan dapat diperhitungkan.
  • Survival rate sangat tinggi (sekitar 50% untuk 5 tahun) menggunakan HD, sehingga saat ini dibutuhkan perbaikan dalam tataksana, seperti CAPD yang tidak membutuhkan gedung, dll. Namun, di sisi lain, untuk menjalani CAPD, diperlukan cairan khusus yang tidak dicover oleh JKN sehingga pasien harus meng-combine HD dan CAPD dan harus bolak-balik kontrol sehingga angka mortalitas pada tahap ini sangat tinggi.
  • Masalah berikutnya adalah belum adanya biaya yang mengcover alat dan bahan untuk pelaksanaan CAPD. Oleh karena itu, pengelolaan pasien GK dalam JKN perlu ditinjau kembali.
  • Gagal Ginjal Kronik merupakan beban terbesar kedua JKN, sebab besarnya jumlah pasien, minimnya peralatan dan terbatasnya akses pasien terhadap modalitasnya (pilihan dialisis).
  • Pembiayaan Dialisis (Cuci Darah) pada pasien gagal ginjal 80% dari Jaminan Kesehatan Nasional. Penyakit gagal ginjal ini kedepan akan semakin meningkat dan mengkhawatirkan beban pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional.
  • Hal inipun belum termasuk perhitungan transportasi pasien dan dana yang dikeluarkan oleh pendamping menuju RS. Oleh karena itu, CAPD dirasa mampu memberikan efek mengurangi beban baik negara maupun pasien, dengan produktifitas yang tetap terjaga dan dana transportasi yang tidak perlu dikeluarkan sebab CAPD dapat dilakukan dii rumah atau di kantor.
  • Tujuan studi ini adalah untuk menganalisa efektivitas biaya dan pengobatan metode cuci darah/hemodialysis (HD) dan cuci darah lewat perut (PD)
  • Studi ini adalah evaluasi ekonomi, bukan efektivitas prosedur sebab sudah banyak dilakukan oleh rekan sejawat yang lain. Besaran biaya sebenarnya diperhitungkan disini, digali dari berbagai fasilitas kesehatan. Dalam studi ini, perspektif sosial juga diperhitungkan sebab di daerah pun banyak terjadi kaus gagal ginjal, bagaimana agar mereka bisa terjangkau, ongkos transport mereka juga dipertimbangkan.
  • Komponen analisis yang dihitung: biaya langsung dan tidak langsung,kualitas hidup pasien, dan jumlah biaya yang dibutuhkan untuk satu tahun hidup berkualitas yang disesuaikan/quality adjusted life years (Incremental Cost)
  • Analisis dari segi biaya dan efektifitas intervensi dihitung dengan menggunakan markov model.
  • Hasil penelitian: untuk HD memang biaya medikasi lebih rendah dibandingkan dengan CAPD, namun biaya langsung non medis (penginapan, konsumsi) dan biaya tidak langsung seperti hilangnya penghasilan baik dari pasien itu sendiri maupun pendamping untuk pasien HD lebih besar. Dilihat dari biaya satuan per tahun, PD memang memiliki biaya langsung lebih mahal. Selain itu, secara biaya total, per tahun, PD memiliki biaya 15 juta lebih mahal dibandingkan dengan HD. Namun, dengan perhitungan ICER menggunakan penyesuaikan kualitas hidup, didapat potensi penghematan biaya sebesar Rp 48.850.332 dalam 5 tahun.
  • Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan evidence based yang mampu menjadi rekomendasi tindak lanjut dari segi regulasi.
  • Hasil yang disajikan dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, namun jika dikatakan bahwa hasilnya tidak berbeda jauh dengan penelitian sebelumnya, ini karena kita belum melakukan analisis lebih dalam dengan metode Budget Impact Analysis, dan lain sebagainya yang diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang lebih signifikan.

 

Materi dapat diunduh pada link berikut 

DharmeizarCHEPS 2017 – Epidemiologi PGTA

Hasbullah Thabrany_CAPD HD Diseminasi 

Septiara Putri_disemination PD_2017

Sigit Priohutomo_ Prioritas Manfaat JKN

Afiatin_presentasi CHEP JAKARTA

Armansyah_8April-17 CHEPs-Tarif INA-CBG CAPD-

Atma Gunawan_CAPD praktek terkini dan hambatan

Leave a reply